Jumat, 20 Februari 2015

Cerpen 1

Hantu Asmara
Karya : Regita Valentina

Aku berjalan tergopoh-gopoh menyusuri jalan desaku. Hari ini matahari yang sangat terik menyorot kepalaku. Dan akhirnya aku sampai di rumahku. Tiga bulan yang lalu aku pindah ke rumah ini, di komplek perumahan yang lebih sedikit mewah dari komplekku dulu. Aku menaruh tas belanjaku diatas meja dapur. Suamiku masih dinas di luar kota.
Aku mempunyai seorang tetangga yang baik hati, namanya Asmara. Rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Di halaman belakang rumahku ada sebuah pintu yang menghubungkan rumahku dengan rumah Asmara. Biasanya pada sore hari Asmara akan mendorong pintu itu untuk sekedar mengantarkan makanan yang bergizi untuk janinku dan berbincang sedikit denganku.
Tak berapa lama Asmara mendorong pintu belakang. Ia membawa mangkuk tertutup. Aroma yang keluar dari mangkuk tersebut menusuk-nusuk lubang hidungku. Mungkin sup ikan segar yang dibawanya. Aku sudah tidak sabar untuk melahapnya.
“Asmara, akhirnya kau datang juga,” sapaku mengawali percakapan.
“Iya dong, nih aku bawakan sup ikan. Mudah-mudahan kau suka,” jawab Asmara penuh keramahan.
Benar dugaanku, Asmara membawa sup ikan nan lezat. Asmara memang pintar memasak. Berbeda denganku yang baru belajar memasak ketika aku menikah dengan Hartanto, suamiku. Sejak pertama pindah ke sini, Asmara selalu membawakan menu yang berbeda dengan cita rasa lezat dengan cuma-cuma.
Aku segera mencicipi sup ikan bawaan Asmara. Hmm, rasanya sangatlah lezat. Janinku menendang-nendang. Usia kehamilanku sudah menginjak lima bulan. Asmara pernah memberikan saran untuk olahraga senam yoga. Aku diberi alamat senam yoga olehnya.
“Oh ya, Asmara. Waktu itu kau pernah memberikan alamat senam yoga kepadaku. Bisakah kau mengantarku?” pintaku.
“Maaf, aku nggak bisa. Aku harus menjaga rumah, suamiku sedang dinas,” jawabnya.
“Oh ya sudah, nggak apa lah.
Sebenarnya aku agak kecewa.Tapi karena alasannya memang benar aku menerimanya. Dulu aku pernah bertanya pada Asmara tentang anaknya. Waktu itu kandunganku masih berusia tiga bulan.
“Berapa usia kandunganmu?” tanya Asmara.
“Masih tiga bulan, sudah berapa tahunkah anakmu?”
“Janinku baru dikuret sebulan yang lalu,” jawab Asmara lirih.
Aku tidak menyangka bahwa pertanyaanku menyinggung hatinya. Aku juga tidak habis pikir, Harimukti---suami Asmara---selalu meninggalkan Asmara dengan alasan dinas. Padahal Asmara masih berduka karena kehilangan buah hati mereka akibat dikuret.
Malam ini aku sedang menikmati mangga di halaman belakang. Tiba-tiba Asmara datang mendorong pintu belakang sambil menangis. Ia memelukku dan mengadu padaku. Ia berkata bahwa ia disiksa Harimukti gara-gara ia menanyakan perihal seorang wanita yang dilihatnya kemarin.
**
Esok harinya saat aku pulang dari senam yoga, aku melihat kerumunan orang di depan rumah Asmara. Aku bertanya pada salah seorang tetangga.
“Ada apa?” tanyaku dengan nada bingung.
“Anu, Asmara dibunuh suaminya. Mayatnya sudah membusuk, diperkirakan seminggu yang lalu,” jelas seorang tetangga.
Badanku langsung lemas, jantungku berdebar. Langkahku gontai menuju rumah. Jika Asmara dibunuh seminggu yang lalu, lantas siapa yang semalam menangis di rumahku? Perasaanku tak tenang. Aku menunggu suamiku pulang dengan gelisah. Aku tertidur di dipan ruang depan.
Aku terbangun karena suamiku pulang.
“Assalamu’alaikum,salam suamiku sambil melonggarkan dasi.
“Wa’alaikumsalam,jawabku.
“Ini, aku bawakan roti gambang kesukaanmu.
“Ah, terimakasih. Selalu merepotkan saja.
“Ini bukan dariku”.
“Lalu, dari siapa roti ini?”

“Dari Asmara.

Biografi Penulis

Nama                                    : Regita Valentina
TTL                                         : Kebumen, 11 Februari 2001
Zodiak                                   : Aquarius
Riwayat Pendidikan        : -Play group IT Yaa Bunaya
-          TK IT Yaa Bunaya
-          SDN Kebon Jeruk 02 Pagi Jakarta Barat
-          SMPN 1 Cibeber
-          SMAN 1 Cibeber

Alamat                                  : Kp. Handeueul, Cibeber, Cianjur