Hantu
Asmara
Karya : Regita Valentina
Aku berjalan tergopoh-gopoh menyusuri jalan desaku.
Hari ini matahari yang sangat terik menyorot kepalaku. Dan akhirnya aku sampai
di rumahku. Tiga bulan yang lalu aku pindah ke rumah ini,
di komplek perumahan yang lebih sedikit mewah dari komplekku dulu. Aku menaruh
tas belanjaku diatas meja dapur. Suamiku masih dinas di luar kota.
Aku mempunyai seorang tetangga yang baik hati, namanya Asmara. Rumahnya bersebelahan
dengan rumahku. Di halaman belakang rumahku ada sebuah pintu yang menghubungkan
rumahku dengan rumah Asmara. Biasanya pada sore hari Asmara akan mendorong
pintu itu untuk sekedar mengantarkan makanan yang bergizi untuk janinku dan
berbincang sedikit denganku.
Tak berapa lama Asmara mendorong pintu belakang. Ia
membawa mangkuk tertutup. Aroma yang keluar dari mangkuk tersebut menusuk-nusuk
lubang hidungku. Mungkin sup ikan segar yang dibawanya. Aku sudah tidak sabar
untuk melahapnya.
“Asmara, akhirnya kau
datang juga,” sapaku mengawali percakapan.
“Iya dong, nih aku bawakan
sup ikan. Mudah-mudahan kau suka,” jawab Asmara penuh keramahan.
Benar dugaanku, Asmara membawa sup ikan nan lezat.
Asmara memang pintar memasak. Berbeda denganku yang baru
belajar memasak ketika aku menikah dengan Hartanto,
suamiku. Sejak pertama pindah ke sini, Asmara
selalu membawakan menu yang berbeda dengan cita rasa lezat dengan cuma-cuma.
Aku segera mencicipi sup ikan bawaan Asmara. Hmm,
rasanya sangatlah lezat. Janinku menendang-nendang. Usia kehamilanku sudah
menginjak lima bulan. Asmara pernah memberikan saran untuk olahraga senam yoga.
Aku diberi alamat senam yoga olehnya.
“Oh ya, Asmara. Waktu itu
kau pernah memberikan alamat senam yoga kepadaku. Bisakah kau mengantarku?”
pintaku.
“Maaf, aku nggak bisa. Aku
harus menjaga rumah, suamiku sedang dinas,” jawabnya.
“Oh ya sudah, nggak apa lah.”
Sebenarnya aku agak kecewa.Tapi karena alasannya
memang benar aku menerimanya. Dulu aku pernah bertanya pada Asmara tentang
anaknya. Waktu itu kandunganku masih berusia tiga bulan.
“Berapa usia kandunganmu?”
tanya Asmara.
“Masih tiga bulan, sudah
berapa tahunkah anakmu?”
“Janinku baru dikuret
sebulan yang lalu,” jawab Asmara lirih.
Aku tidak menyangka bahwa pertanyaanku menyinggung
hatinya. Aku juga tidak habis pikir, Harimukti---suami
Asmara---selalu meninggalkan Asmara
dengan alasan dinas. Padahal Asmara masih berduka karena kehilangan buah hati
mereka akibat dikuret.
Malam ini aku sedang menikmati mangga di halaman belakang. Tiba-tiba Asmara datang mendorong pintu belakang sambil
menangis. Ia memelukku dan mengadu padaku. Ia berkata bahwa ia disiksa
Harimukti gara-gara ia menanyakan perihal seorang wanita yang dilihatnya
kemarin.
**
Esok harinya saat aku pulang dari senam yoga, aku
melihat kerumunan orang di depan rumah
Asmara. Aku bertanya pada salah seorang tetangga.
“Ada apa?” tanyaku dengan nada bingung.
“Anu, Asmara dibunuh
suaminya. Mayatnya sudah membusuk, diperkirakan seminggu yang lalu,” jelas
seorang tetangga.
Badanku langsung lemas, jantungku berdebar. Langkahku
gontai menuju rumah. Jika Asmara dibunuh seminggu yang lalu,
lantas siapa yang semalam menangis di rumahku?
Perasaanku tak tenang. Aku menunggu suamiku pulang dengan gelisah. Aku tertidur
di dipan ruang depan.
Aku terbangun karena suamiku pulang.
“Assalamu’alaikum,” salam suamiku sambil melonggarkan
dasi.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku.
“Ini, aku bawakan roti
gambang kesukaanmu.”
“Ah, terimakasih. Selalu
merepotkan saja.”
“Ini bukan dariku”.
“Lalu, dari siapa roti ini?”
“Dari Asmara.”